Minggu, 01 Mei 2011

Perbedaan remaja dan dewasa dalam hal stres

Netsains.Com – Stresnya orang tua ternyata berbeda dengan stres anak remaja. Walau menghadapi masalah yang serupa, maka respon mereka bisa jadi beda. Inilah yang dipelajari oleh Adriana Galván, seorang neurosaintis dari University of California, Los Angeles.
“Studi mengenai stress dan perkembangan kognisi kebanyakan terfokus pada stress kronis, stre hebat dan traumatis, seperti penelantaran anak dan penolakan,” ujar Galvan.
Pada riset barunya, Galvan dan tim akan berusaha mengenali kaitan antara stress sehari-hari yang berhubungan dengan hormone stress dengan keputusan yang dibuat selama masa remaja.
Saat stress, biasanya otak menginterprestasikannya sebagai situasi mengancam. Bagian otak bernama hypothalamus melepaskan hormon adrenocorticotrophic releasing hormone (ARH) yang menstimulasi kelenjar bawah otak memproduksi adrenalin dan kortisol, dan meningkatkan tekanan darah serta detak jantung. Ketika situasi stress sudah berlalu, hippocampus menghantikan produksi hormon ini sehingga tubuh kembali ke keadaan normal.
Bagaimana seseorang merespon stres akan berbeda antara satu dengan lainnya, tergantung pada pengalaman mereka terdahulu. Galván memonitor level stress para partisipannya seanyak 4 kali sehari. Dari data diketahui bahwa sumber terbesar stress para remaja adalah orang tua, sedangkan sumber stress orang dewasa adalah pekerjaan.
Ada juga perbedaan dari sisi waktu stres. Orang dewasa cenderung mengalami stress di pagi hari, sedangkan remaja di sore hari. Pada remaja, stress lebih memicu kerusakan kognitif dibanding pada orang dewasa. Galvan juga menemukan bhwa kaum remaja menghasilkan kortisol lebih banyak daripada orang dewasa saat stress.
Para partisipan juga menjalani pemindaian functional magnetic resonance imaging (FMRI) yang memungkinkan ilmuwan mengetahui bagian otak mana yang bekerja selama mereka menjalankan tugas khusus.
Dengan mengetahui apa perbedaan remaja dan orang dewasa dalam merespon stress, diharapkan dapat bermanfaat dalam pengambilan keputusan di bidang kebijakan publik, juga bagi psikiater, psikolog, pendidikan, dan pengembangan manusia. Studi ini juga menghadirkan bukti-bukti bagaimana stress mempengaruhi kemampuan kognisi dan fungsi otak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar